Rabu, 13 April 2011

KEANEKARAGAMAN TANAMAN BAMBU DI HUTAN LINDUNG BOVEN LAIS BATU ROTO BENGKLULU UTARA


PENELITIAN ANGGOTA MUDA WARISAN
JUDUL PENELITIAN
KEANEKARAGAMAN JENIS BAMBU DI KAWASAN HUTAN LINDUNG BOVEN LAIS, DESA BATU ROTO, KECAMATAN ARGAMAKMUR, KABUPATEN BENGKULU UTARA
















Disusun oleh :
Chandra Irwanto Lumban Gaol




WAHANA RIMBAWAN KONSERVASI HUTAN
JURUSAN KEHUTANAN
2011

I.         Keanekaragaman Jenis Bambu di Kawasan Hutan Lindung Boven Lais, Desa Batu Roto, Kecamatan Argamakmur, Kabupaten Bengkulu Utara.

II.      Chandra Irwanto Lumban Gaol      

III.   ABSTRAK
Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah air, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Penelitian ini dilakukan untuk Untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis bambu dan  mengetahui kegunaan dan manfaat keanekaragaman jenis bambu di kawasan Hutan Lindung Boven Lais, Desa Batu Roto, Kecamatan Argamakmur, Kabupaten Bengkulu Utara. Bambu merupakan tanaman yang memiliki manfaat sangat penting bagi kehidupan manusia yang  dapat dimanfaatkan dan diolah dalam aspek ekonomis. Batang bambu apus berbatang kuat, liat, dan lurus. Jenis ini terkenal paling bagus untuk dijadikan bahan baku kerajinan anyaman karena seratnya yang panjang, kuat, dan lentur. Ada juga yang menggunakannya untuk alat musik
Kata kunci: Hutan Lindung, Bambu, Karakteristik, Pemanfaatan.
IV.   PENDAHULUAN
4.1  Latar Belakang
Undang-undang Republik Indonesia nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan  menyebutkan bahwa Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah air, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Hutan Lindung dapat ditetapkan di wilayah hulu sungai (termasuk pegunungan di sekitarnya) sebagai wilayah tangkapan hujan (catchment area), di sepanjang aliran sungai bilamana dianggab perlu, di tepi-tepi pantai (misalnya pada hutan bakau). Salah satu kawasan hutan lindung yang berada di Indonesia adalah Hutan lindung Boven Lais. Pada hutan lindung tersebut, tingkat keanekaragaman vegetasi tumbuhan masih sangat tinggi dimana tingkat rata-rata suhu adalah 26oC dan kelembapannya mencapai 80%. Tetapi berbanding terbalik dengan keanekaragaman satwa di kawasan tersebut. Hal tersebut terjadi berdasarkan tingkat perburuan dan perambahan hutan.
Bambu merupakan tanaman yang secara botanis dapat digolongkan pada famili Gramineae (rumput). Bambu adalah semua jenis tanaman yang berada dalam Kingdom plantae, angiosperma monokotil, ordo poales, famili poaceae, dan suku bambuseae, terdapat 9 subsuku, yaitu, Arthrostylidiinae, Arundinariinae, Bambusinae, Chusqueinae, Guaduinae, Melocanninae, Nastinae, Racemobambodinae, dan Shibataeinae. Bambu mudah menyesuaikan diri dengan kondisi tanah dan cuaca yang ada, serta dapat tumbuh pada ketinggian sampai dengan 3800 m di atas permukaan laut. Bambu tumbuh berumpun dan memiliki akar rimpang, yaitu semacam buhul yang bukan akar maupun tandang. Bambu memiliki ruas dan buku. Pada setiap ruas tumbuh cabang-cabang yang berukuran lebih kecil dibandingkan dengan buluhnya sendiri. Pada ruas-ruas ini, tumbuh akar-akar yang memungkingkan untuk memperbanyak tanaman dari potongan-potongan setiap ruasnya, disamping tunas-tunas rimpangnya (Widjaja, 1985).
Hutan rakyat bambu tanamannya hidup merumpun, kadang-kadang ditemui berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa yang identik dengan batas desa di Jawa. Penduduk desa sering menanam bambu di sekitar rumahnya untuk berbagai keperluan. Bermacam-macam jenis bambu bercampur ditanam di pekarangan rumah. Pada umumnya yang sering digunakan oleh masyarakat di Indonesia adalah bambu tali, bambu petung, bambu andong dan bambu hitam (Widjaja, 1985). Seperti halnya tebu, bambu mempunyai ruas dan buku. Pada setiap ruas tumbuh cabang-cabang yang berukuran jauh lebih kecil dibandingkan dengan buluhnya sendiri. Pada ruas-ruas ini pula tumbuh akar-akar sehingga pada bambu dimungkinkan untuk memperbanyak tanaman dari potongan-potongan setiap ruasnya, disamping tunas-tunas rimpangnya (Widjaja, 1985). Bambu merupakan tanaman yang memiliki banyak kegunaan mulai dari benda kerajinan, bahan makanan, bahan industri, sampai kepada bahan konstruksi. Diantara pemanfaatan bambu antara lain digunakan sebagai topi, kursi, meja, lemari, alat musik angklung, sayur (rebung), kertas, dan bahan bangunan. Kegunaan ini tidak hanya dikenal dibeberapa negara saja melainkan hampir di seluruh dunia sejak dahulu kala (Widjaja, 1985).

4.2  Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis bambu di kawasan Hutan Lindung Boven Lais, Desa Batu Roto, Kecamatan Argamakmur, Kabupaten Bengkulu Utara.
2.      Untuk mengetahui kegunaan dan manfaat keanekaragaman jenis bambu di kawasan Hutan Lindung Boven Lais, Desa Batu Roto, Kecamatan Argamakmur, Kabupaten Bengkulu Utara.


4.3  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan permasalahan yang akan diamati adalah “Apakah tindak lanjut masyarakat Desa Batu Roto dalam pemanfaatan jenis bambu yang juga sudah merupakan faktor pendukung dari segi ekonomis?”



4.4  Manfaat Penelitian
1.      Memberikan gambaran tentang keanekaragaman jenis bambu dan  pengelolaan di kawasan Hutan Lindung Boven Lais, Desa Batu Roto.
2.      Sebagai bahan referensi bagi calon peneliti lain yang akan mengadakan penelitian lebih lanjut dimasa yang akan datang.

V.  METODOLOGI PENELITIAN
5.1 Alat dan Bahan Penelitian
5.1.1 Alat
1.      Parang
2.      Gunting
3.      Karton/koran
4.      Karung
5.     Buku penuntun dan alat tulis
6.      Kamera digital
7.      Baju lapangan
8.      Buku lapangan

5.1.2 Bahan
 1.   Alkohol 75% (spritus)

5.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 18 maret sampai dengan 20 maret 2011 di kawasan Hutan Lindung Boven Lais, Desa Batu Roto, Kecamatan Argamakmur, Kabupaten Bengkulu Utara.

5.2 Metode Penentuan lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian ditentukan secara purposive (sengaja) yaitu di kawasan Hutan Lindung Boven Lais, Desa Batu Roto, Kecamatan Argamakmur, Kabupaten Bengkulu Utara, dengan pertimbangan bahwa tempat tersebut tingkat keanekaragaman tumbuhan masih tinggi, seperti jenis bambu.

5.3  Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan cara eksplorasi dan wawancara. Teknik metode eksplorasi yakni dengan pengambilan data dan bahan secara fleksibel dan teknik wawancara kepada masyarakat desa dalam mencari informasi mengenai jumlah jenis bambu di kawasan tersebut.


5.4 Data yang Dikumpulkan    
Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan secara survai (diambil langsung dari sumbernya). Data sekunder adalah data yang diperoleh dari literatur dan instansi-instansi yang berhubungan dengan permasalahan yang diangkat.
1.      Data primer
Data primer diperoleh melalui metode eksplorasi pengambilan jenis bambu yakni : batang, daun, rebung, kelopak dan lainnya. Serta pengambilan gambar sebagai bahan dokumentasi dalam gambar di lapangan.
Adapun data yang dicari adalah sebagai berikut :
A.    Aspek Fisiologi Tumbuhan terdiri dari nama spesies, warna batang dan daun serta pembuluhan batang dan daun, diameter bambu dan rebung, tinggi batang dan rebung dan bentuk kelopak.
B.     Aspek Ekologi meliputi jumlah populasi, manfaat tanaman bambu, musuh alami bambu, penyakit yang sering di derita dan penanggulangan.

2.      Data Sekunder
Data sekunder diambil melalui studi komunikasi yaitu, pengumpulan data sekunder mengenai wawancara terhadap masyarakat setempat dalam mencari informasi dari data yang real dan fleksibel dan dilanjutkan dengan penyempurnaan data dari internet dan kawasan PLTA TES.

5.5 Analisa Data

Dalam penelitian ini dalam memperoleh data dan informasi yang lengkap  menggunakan metode analisis kualitatif, yaitu analisis non statistik atau berupa uraian-uraian yang tidak menggunakan perhitungan angka-angka tetapi secara deskriptif. Data yang diperoleh melalui teknik studi pustaka, observasi, dan wawancara.


VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1 HASIL PENELITIAN
No.
Nama Lokal
Nama Ilmiah
Keterangan
Status
Dilindungi
Non Dilindungi
1.
Bambu Betung
Dendrocalamus asper
Pertumbuhan daun: - simpodial
Tinggi tanaman:
- 15 sampai 20 m
Diameter tanaman
- 10 sampai 20 cm
Warna daun :
- kehijauan
Warna batang :
- hijau bercak putih
Warna bulu daun
- keputihan
Warna bulu batang:
- putih kemerahan
Kelopak
- hijau, mudah menggulung (lepas)
Ukuran rebung
- meruncing

2.
Bambu Kuning
Bambusa vulgaris
Pertumbuhan daun: - simpodial
Tinggi tanaman:
- 10 sampai 15 m
Diameter tanaman
- 10 sampai 15 cm
Warna daun :
- hijau kekuningan
Warna batang :
- kuning bercak hitam
Warna bulu daun
- hitam kemerahan
Warna bulu batang:
- putih kemerahan
Kelopak
- hijau, mudah menggulung (lepas)
Ukuran rebung
- meruncing

3.
Bambu Apus
Gigantochloa apus
Pertumbuhan daun: - simpodial
Tinggi tanaman:
- 20 sampai 25 m
Diameter tanaman
- 20 sampai 25 cm
Warna daun :
- kehijauan
Warna batang :
- hijau murni
Warna bulu daun
- keputihan
Warna bulu batang:
- putih kemerahan
Kelopak
- hijau, mudah menggulung (lepas)
Ukuran rebung
- meruncing


(apendiks III)

                
6.2 PEMBAHASAN
Bambu adalah semua jenis tanaman yang berada dalam Kingdom plantae, angiosperma monokotil, ordo poales, famili poaceae, dan suku bambuseae, terdapat 9 subsuku, yaitu, Arthrostylidiinae, Arundinariinae, Bambusinae, Chusqueinae, Guaduinae, Melocanninae, Nastinae, Racemobambodinae, dan Shibataeinae.
1.      Bambu Betung
Bambu betung sifatnya keras dan baik untuk bahan bangunan karena seratnya besar-besar dan ruasnya panjang. Dapat dimanfaatkan untuk saluran air, penampung air aren yang disadap, dinding rumah yang dianyam, (gedek atau bilik), dan berbgai jenis barang kerajinan.

2.      Bambu Kuning

Bambu dapat dimanfaatkan untuk mebel, bahan pembuat kertas, untuk kerajinan tangan dan dapatditanam di halaman rumah karena cukup menarik sebagai tanaman hias serta untuk obat penyakit kuning atau lever.

3.      Bambu Apus
Batang bambu apus berbatang kuat, liat, dan lurus. Jenis ini terkenal paling bagus untuk dijadikan bahan baku kerajinan anyaman karena seratnya yang panjang, kuat, dan lentur. Ada juga yang menggunakannya untuk alat musik
Bambu merupakan tanaman yang memiliki manfaat sangat penting bagi kehidupan. Semua bagian tanaman mulai dari akar, batang, daun, kelopak, bahkan rebungnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Untuk lebih jelasnya berikut ini diuraikan manfaat bambu ditinjau dari setiap bagian tanamannya yang ditinjau dari lapangan menuju perbandingan beberapa pustaka buku, diantaranya adalah :
a.       Akar tanaman bambu dapat berfungsi sebagai penahan erosi guna mencegah bahaya banjir.
b.      Batang Batang bambu memang merupakan bagian yang paling banyak diusahakan untuk dibuat berbagai macam barang untuk keperluan sehari-hari
c.       Daun bambu dapat digunakan sebagai alat pembungkus dan Daun bambu muda yang tumbuh diujung cabang dan berbentuk runcing juga sering digunakan sebagai obat
d.      Rebung Rebung, tunas bambu atau disebut juga trubus bambu merupakan kuncup bambu muda yang muncul dari dalam tanah yang berasal dari akar rhizome maupun buku-bukunya. Umumnya rebung masih diselubungi oleh pelepah buluh yang ditutupi oleh miang
e.       Tanaman Hias Tanaman bambu banyak pula yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Mulai dari jenis bambu kecil, batang kecil, lurus, dan pendek yang banyak ditanam sebagai tanaman pagar di pekarangan.

Dalam teknik Metode Wawancara terhadap masyarakat bahwasanya dalam di kawasan Hutan Lindung Boven Lais, Desa Batu Roto, Kecamatan Argamakmur, Kabupaten Bengkulu Utara terdapat 6 sampai 7 spesies.
Keanekaragaman jenis bambu di kawasan Hutan Lindung boven Lais adalah:
1.      Bambu Betung (Dendrocalamus asper)
2.      Bambu Kuning (Bambusa vulgaris)
3.      Bambu Apus (Gigantochloa apus)
4.      Bambu Parring (Gigantochla atter)
5.      Rumpun Bambu Tallang (schvzostachyum brachycladum)
6.      Bambu Hitam (Gigantochloa atroviolacea)
7.      Bambu Pagar (Bambusa glaucescens)

Dalam perolehan data yang dikumpulkan maka, disimpulkan bahwa:
1.      Data Primer diperoleh melalui metode eksplorasi dengan cara pengambilan langsung tanaman bambu tersebut :
·      Spesies 1 : Bambu Betung (Dendrocalamus asper)
·      Spesies 2 : Bambu Kuning (Bambusa vulgaris)
·      Spesies 3 : Bambu Apus (Gigantochloa apus)

2.      Data sekunder diambil melalui studi komunikasi yaitu, pengumpulan data sekunder mengenai wawancara terhadap masyarakat setempat dalam mencari informasi dari data yang real dan fleksibel dan dilanjutkan dengan penyempurnaan data dari internet dan kawasan PLTA TES. Tanaman yang merupakan data sekunder adalah :
·         Spesies 1 : Bambu Parring (Gigantochla atter)
Batang bambu atter biasanya digunakan orang untuk dinding rumah, pagar, alat-alat rumah tangga, kerajinan tangan dan ada juga yang menggunakan untuk alat musik.

·         Spesies 2 : R. Bambu Tallang (schvzostachyum brachycladum)
Bambu talang banyak digunakan untuk bahan atap, dinding, dan lantai rumah adat Toraja. Selain itu bambu talang juga digunakan untuk rakit, tempat air, dan bahan kerajinan tangan seperti ukiran dan anyaman.

·         Spesies 3 : Bambu Hitam (Gigantochloa atroviolacea)
Bambu hitam sangat baik untuk dibuat alat musik seperti angklung, gambang, atau calung dan dapat juga digunakan untuk furniture dan bahan kerajinan tangan.

·         Spesies 4 : Bambu Pagar (Bambusa glaucescens)
Bambu ini juga menarik sebagai tanaman hias yang dipangkas dengan berbagai bentuk.




VII. KESIMPULAN
1.      Berdasarkan hasil analisis aspek fisiologi dan ekologi keanekaragaman jenis Bambu yang berada di kawasan Lindung Boven Lais, Desa Batu Roto, Kecamatan Argamakmur, Kabupaten Bengkulu Utara dapat dimanfaatkan dan diolah dalam aspek ekonomis.
2.      Bambu merupakan tanaman yang dapat ditanam pada tanah kering/basah, tidak membutuhkan perawatan khusus, investasi kecil,  kemampuan toleransi terhadap lingkungan tinggi memiliki multifungsi sebagai bahan makanan, pembungkus, kerajinan, konstruksi dan industri
3.      Tanaman bambu memiliki nilai konservasi tinggi karena mampu memberi  perkuatan permukaan tanah, melalui kemampuan mempengaruhi retensi air dalam  lapisan topsoil, sehingga mampu meningkatkan aliran air bawah tanah   






VIII. DAFTAR PUSTAKA
Subianto, Nicky. (2009). Analisis Kekuatan TarikKomposit Serat Bambu Dibuat dengan MetodeManufaktur Hand Lay-Up. Bandung: Program StudiAeronotika dan Astronotika, Fakultas Teknik Mesindan Dirgantara.

Arinasa, I.B.K., N. Sudiatna, N. Swirta 2003. Laporan Penelitian dan Eksplorasi Flora di Kabupaten Karangasem. Candikuning: UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bali-LIPI.

Arinasa, I.B.K, E.A.Widjaja, 2003. Bamboo Diversity in Bali. Seminar International Botanical Garden Congress. Candikuning, 15-18 Juli 2003.

Dransfield, S. and E. A. Widjaja, 1995. Plant Resources of South-East Asia 7. Bamboos. Leiden: Backhuys Publisher.

Widjaja, E.A. 2001. Identikit Jenis-jenis Bambu di Jawa. Bogor: Balai Penelitian Botani, Herbarium Bogoriense-LIPI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar